Studi Kasus: Pasangan Hitungan 'Pegat' yang Justru Langgeng 25 Tahun
Primbon bilang rumah tangga mereka bakal kandas: neptu 25, sisa empat, masuk kategori Pegat. Dua puluh lima tahun kemudian, Pak Sardi dan Bu Lastri masih satu meja makan. Ini kisah lengkapnya.
Kalau kamu pernah dengar istilah Pegat, kamu tahu itu bukan kategori yang bikin tenang. Dalam hitungan jodoh Jawa, Pegat diartikan sebagai pasangan yang rawan berpisah — konon gampang cerai, rezekinya seret, atau sering bertengkar. Tapi di sebuah desa di pinggiran Klaten, ada sepasang suami istri yang sudah membuktikan sebaliknya selama 25 tahun. Namanya Pak Sardi dan Bu Lastri.
Kisahnya bermula tahun 2001, saat kedua keluarga duduk bersama untuk menentukan hari pernikahan. Sesepuh desa yang paham primbon pun menghitung: Pak Sardi lahir Senin Pahing — neptunya 13. Bu Lastri lahir Kamis Wage — neptunya 12. Jumlahnya 25, dibagi tujuh menyisakan empat, dan sisa empat dalam hitungan jodoh adalah Pegat. Ruangan yang tadinya ramai jadi senyap. Ibu Bu Lastri sampai sempat menyarankan menunda lamaran.
Tapi Pak Sardi — yang waktu itu masih pacaran — punya pendirian lain. Ia bilang ke calon mertuanya, 'Hitungan itu cuma catatan, Bu. Yang jalanin rumah tangga kami berdua, bukan angkanya.' Akhirnya pernikahan tetap digelar, dengan satu syarat dari orang tua: mengadakan selamatan kecil sehari sebelum akad sebagai permohonan keselamatan. Bu Lastri mengenangnya sambil tertawa: 'Dulu saya sempat nangis, takut beneran cerai.'
Dan memang, lima tahun pertama pernikahan mereka tidak mulus sama sekali. Usaha ternak ayam Pak Sardi bangkrut, anak pertama lahir prematur, dan Bu Lastri sempat jatuh sakit sampai tiga bulan. Waktu itu, kata mereka, tetangga mulai bisik-bisik: 'Sudah, itu memang ketebak Pegat.' Ada juga yang sungguh-sungguh menyarankan ruwatan. Tapi daripada larut dalam was-was, pasangan ini memilih cara lain: duduk berdua, membicarakan utang, membagi tugas, dan sepakat tidak pernah membawa masalah tidur hingga esok pagi.
Perlahan tapi pasti, keadaan berubah. Usaha kecil gorengan Bu Lastri berkembang jadi warung makan yang ramai, utang lunas, dan anak-anak tumbuh sehat. Pak Sardi suka bercerita bahwa dulu ia menganggap primbon seperti guru galak di sekolah — menakutkan kalau cuma didengar, tapi sebenarnya mengajari kita untuk hati-hati. 'Kami anggap peringatan Pegat itu kayak rambu tikungan tajam,' katanya. 'Nggak perlu berhenti, cuma harus pelan-pelan dan waspada.'
Dua puluh lima tahun kemudian, di acara ulang tahun pernikahan yang dihadiri tiga anak dan dua cucu, sesepuh yang dulu menghitung itu hadir dan bercanda: 'Dulu saya bilang Pegat, sekarang malah jadi bukti.' Semua tertawa. Bu Lastri menimpali dengan kalimat yang saya catat sampai sekarang: 'Weton cuma nulis kalimat pertama, Bu. Sisanya kita yang nulis.'
Apa yang bisa dipetik dari kisah Pak Sardi dan Bu Lastri? Hitungan jodoh memang punya tempat dalam tradisi, dan tidak salah untuk menghormatinya. Tapi primbon lahir untuk menuntun, bukan mengunci. Komunikasi yang jujur, kesabaran menghadapi masa sulit, dan dukungan keluarga — itu yang menopang pernikahan mereka, bukan angka sisa pembagian. Jadi kalau hasil cek jodohmu kurang menggembirakan, jangan buru-buru patah hati. Anggap saja itu undangan untuk lebih berhati-hati, lalu buktikan sendiri bahwa cerita bisa ditulis ulang.